Sejarah Desa Wonoharjo
Pada tahun 1920an terdapat 2 Desa di wilayah yang sekarang menjadi Desa Wonohajo. Desa Tersebut adalah Desa Lemungsur dan Desa Wonosari. Desa Lemungsur memiliki Lurah bernama Mbah Kartosaimin. Sementara Desa Wonosari memiliki Lurah bernama Mbah Surawikarta atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Glondong.
Pada tahun 1930an, Mbah Kartosaimin meninggalkan Desa Lemungsur. Tidak diketahui secara pasti kemana tujuannya pergi. Keadaan tersebut menimbulkan gejolak bagi warga di desa lemungsur sebab ia tak pernah kembali ke Desa.
Pada tahun 1942, Desa Lemungsur digabungkan dengan Desa Wonosari. Dari penggabungan itu dibentuk Desa baru dengan Nama Desa Wonoharjo dengan Lurah pertama Jaka Surawikarta.
Pada awal masa berdiri Desa Wonoharjo terjadi wabah koreng dan muntaber. Wabah tersebut menjangkit banyak warga desa wonoharjo. Kondisi tersebut diperparah dengan kelaparan yang melanda akibat penjajahan jepang. Masyarakatpun mengenakan goni sebagai pakaian sehari-hari.
Jaka Surawikarta menjabat sampai dengan tutup usia pada tahun 1945. Pasca kematianya Desa Wonoharjo memilih lurah baru. Pemilihan lurah baru dilakukan dengan cara dodokan. Sumosumarto atau populer dengan sebutan Guru Cegkreng terpilih menjadi Lurah Desa Wonoharjo.
Sumosumarso adalah seorang guru dan merupakan menantu dari Jaka Surawikarta. Dalam menjalankan tugasnya Jaka Sumosumarto sebagai Lurah, Dia dibantu seorang carik yang bernama Dipawigena. Pada saat kantor desa wonoharjo belum dibangun.
Sumosumarto mengundurkan diri sebagai lurah pada tahun 1951. Dia kembali menjadi seorang guru. Pasca mundurnya Sumosumarto, pemilihan lurah dilakukan kembali dengan cara biting. Masyarakat memasukan lidi ke dalam bumbung bambu masing – masing calon. Kemudian jumlah lidi yang di peroleh masing masing calon dihitung. Ngadimoen Coendroewigenoe atau populer nama Lurah Condro yang juga merupakan keponakan dari Jaka Surawikarta terpilih menjadi Lurah yang baru.
Ngadimoen Condrowigeno dibantu Carik yang bernama Suwito. Pada masa pemerintahanya masyarakat mulai gemar memelihara ternak baik sapi maupun kambing. Dia menjabat menjabat hingga tahun 1965 di era meletusnya G 30 S.PKI.
Pasca berhentinya Lurah Ngadimoen Condrowigeno diadakan pemilihan Kepala Desa/Lurah dengan cara pencoblosan simbol. Suprapto terpilih menjadi Kepala Desa yang baru. Dia merupakan cucu dari Jaka Surawikarta. Pada masa kepemimpinanya Dia dibantu oleh seorang carik yang bernama Sanaris. Masa kepemimpinan beliau berlangsung hingga tahun 1990.
Tahun 1990 Desa Wonoharjo mengadakan pemilih Kepala Desa yang dikuti oleh Suparmin Warga Dusun Lemungsur dan Sukra Warga Dusun Luwung. Pemilihan kepala desa kala itu dilakukan dengan cara pencoblosan gambar simbol.
Suparmin terpilih menjadi kepala desa menggantikan Ngadimoen Condrowigeno. Dia dibantu oleh carik bernama Sanaris. Pada tahun 1992 Sanaris digantikan oleh Sugiarto. Masa kepemimpinan Suparmin berlangsung selama satu periode dan berakhir tahun 1998.
Tahun 1998 diadakan pemilihan kepala desa yang di ikuti oleh 4 orang calon yaitu Watno warga Dusun Sawangan, Suyanto warga Dusun Lokarsa, Tugiman warga Dusun Luwung, dan Ahmad warga dusun Slirap yang juga merupakan perangkat desa dengan jabatan Kaur Keuangan.
Pemilihan dilakukan dengan pencoblosan simbol dan perolehan terbanyak diperoleh Watno. Dia menjadi kepala desa dan dibantu carik Sugiarto. Watno menjabat selama satu peridoe jabatan dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2006.
Pemilihan Kepala Desa kembali diadakan diikuti oleh Sukarto Albertus warga Dusun Luwung, Sri budi Murnianto warga Dusun Luwung,dan Suparmin warga Dusun Lemungsur. Pemilihan dilakukan dengan pencoblosan surat suara. Sukarto Albertus meraih perolehan suara tertinggi.
Sukarto Albertus merupakan warga Gunung Kidul yang berprofesi sebagai Guru di Desa Wonoharjo. Dia menjabat sampai dengan tahun 2013 dan di bantu oleh PJ Carik bernama Sukadi yang juga menjabat sebagai Kaur Pemerintahan kala itu.
Tahun 2013 diadakan pemilihan Kepala Desa kembali. Pemilihan diikuti oleh Sukarto Albertus dan Sri budi Murnianto. Dari Hasil perhitungan suara Sri budi murnianto memperoleh suara terbanyak dan menjadi kepala desa yang baru. Dia dibantu oleh PJ Carik Sukadi.
Pada tahun 2019 kembali dilakukan pemilihan kepala desa yang diikuti oleh Sardi Wachyono warga Dusun Wonosari, Sri budi Murnianto warga Dusun Luwung, Suyitno warga Dusun Slirap, dan Sukarto Albertus warga Dusun Luwung.
Sri budi Murnianto terpilih kebali menjadi Kepala Desa Wonoharjo. Masa kepemimpinannya di periode kedua ini Dia dibantu oleh sekretaris desa (carik) Sukadi. Pada tahun 2020 Cari Sukadi meninggal dunia dan digantikan oleh oleh Turyanto.
Keterangan :
Sejarah tersebut merupakan sejarah singkat sejak berdirinya desa wonoharjo berdasarkan sumber dari masyarakat atau sesepuh desa,dan tentunya masih banyak hal yang belum tertulis di karenakan keterbatasan sumber informasi dan sampai saat ini masih dalam tahap pencarian informasi.terutama sejarah sebelum berdirinya desa wonosari dan desa lemungsur yang akhirnya menjadi Desa Wonoharjo.
Admin